Arsip Kategori: Bahasa Jawa 9
Basa Ngoko Alus
- Digunaake kanca karo kanca ngandhakake wong sing diurmati.
- Bojo marang kakunge.
- Wong tua marang wong enom sing diurmati.
- Guru marang bekas muride sing wis kulawarga.
- Kata-kata yang digunakan adalah tembung ngko yang dicampur tembung krama.
- Awalan dan akhiran tidak diubah menjadi awalan dan akhiran krama
- Kata-kata yang diubah menjadi krama adalah kata ganti orang kedua, kata ganti orang ketiga, barang yang dimiliki dan perbuatan orang yang diajak bicara.
Tuladha 1 :
Ibu : “Lho Pak, arep tindhak ngendhi?”
Bapak : “Menyang kelurahan, ditimbali Pak Lurah.”
Ibu : “Lha ngko kondhure jam pira?”
Bapak : “Kira-kira jam 5 nan.”
Tuladha 2 :
Ibnu : “Zen, pan ngendi?”
Zeni : ”Kiye, enyong didhawuhi Pak Guru njukut kapur.”
Ibnu : “Yuh maring koperasi disit tuku jajan.”
Zeni : “Emoh lah, ngko didukani Pak Guru, njukut kapur bae suwe nemen.”
SILAHKAN KALIAN KERJAKAN SOAL BERIKUT MANUT UNGGAH UNGGUH BASA NGOKO ALUS !
Jika ada tulisan berwarna merah, berarti wajib diisi.
PANYANDRA
Panyandra yaiku unen-unen utawa tembung kang saemper karo pepindhan kang surasane mawa tetandhing sarta ngemu teges memper utawa mirip (Panyandra adalah kata-kata atau kalimat mirip dengan pengandaian yang diibaratkan dengan menggunakan perbandingan dan mengandung arti seperti atau mirip.)
Contoh sederhananya, panyandra awak “drijine mucuk eri”. Kata tersebut menggambarkan jari-jari manusia yang indah dan lentik.
Berikut beberapa ciri-ciri panyandra :
- Dalam istilah sastra Jawa tradisional panyandra berarti ibarat, untuk menyatakan gambaran bagian tubuh, keadaan alam, keadaan hewan.
- Menggambarkan sesuatu yang khusus, misalnya bagian tubuh : rambut, hidung, pipi dan mata.
- Membandingkan sesuatu dengan sesuatu. Artinya ada dua objek sebagai pembanding dan yang dibandingkan.
- Menggambarkan dengam melebih-lebihkan maknanya.
Silahkan salin panyandra berikut kedalam Buku LKS Hal. 4 – 5
- Idepe tumenga ing tawang tegese idep kang pucuke ndengking, mayuk mandhuwur
- Lambene manggis karengat tegese lambene kaya kulite manggis (bibirnya berwarna kemerah-merahan).
- Untune miji timun tegese untune cilik-cilik rentep, rapi memper wiji timun.
- Pipine nduren sajuring tegese pipine kaya duren tegese pipine montok, halus, putih kekuningan.
- Rambute ngembang bakung tegese Rambut yang berombak-ombak seperti bunga bakung.
- Swarane ngombak banyu tegese swarane alus kaya ombake banyu.
- Irunge mencana pinatar, mbangir, ngudhup mlathi
- Mripate ndamar kanginan (blalak – blalak)
- Bathuke nyela cendani tegese bathuke alus sumorot/memancar
- Lambehane mblarak sempal tegese lambehan tangane sempale blarak seng tiba.
Merak kasimpir : lambehane lembut banget
Ruruh jatmika : polatane /tingkah lakune sopan santun.
Sedhet singset : hubungane karo slirane / perawakane
Praene : sorot matane
Nggendhewa pinenthang : Tangane kaya gendhewa pinentang tegese tangan sing sikute nekuk mlebu.
Kalian Baca dan pahami Geguritan (Puisi) yang berjudul :
- Damar Bebrayan (Teks 1)
- Saiki Wektune (Teks 2)
Kemudian kerjakan halaman 2 – 3 pada LKS dan jawaban disalin kedalam aplikasi berikut :
Geguritan
Pengertian Geguritan adalah salah satu karya sastra jawa yang memiliki kata atau kalimat yang indah dan memiliki banyak makna dalam bahasa jawa. Cara penyampaian geguritan menggunakan bahasa yang memiliki rima, irama, bait, mitra dan penyusunan kata yang baik dan tepat.
Sering kali orang membuat geguritan sesuai dengan ungkapan perasaan dan pikiran si pembuat geguritan tersebut.
Dalam bahasa Indonesia geguritan bisa disebut juga dengan puisi, yang membedakan geguritan dengan puisi biasa dalam penggunaan bahasanya saja. Geguritan menggunakan bahasa jawa sedankan puisi menggunakan bahasa Indonesia.
Ciri-Ciri Geguritan
Seperti karya sastra yang lain, geguritan juga memiliki karakteristik atau ciri khas tersendiri. Ciri atau karakteristik ini juga bisa mempermudah kita dalam membuat geguritan. Nah, berikut ini adalah hal yang membedakan anatara geguritan dengan karya sastra yang lain, di antaranya adalah:
- Memiliki aturan seperti tembang macapat, yakni guru wilangan (jumlah suku kata setiap baris), guru gatra (jumlah bait), guru lagu (huruf vokal terakhir).
- Kata atau kalimat yang digunakan dalam geguritan harus mempunyai makna atau arti.
- Geguritan yang dibuat harus menggunakan bahasa yang sopan dan indah.
- Terdapat nama pengarang geguritan pada depan atau atas teks geguritan yang dibuat.
Unsur Intrinsik Geguritan
Guna mempermudah kita dalam membuat geguritan yang baik dan benar, kita perlu memerhatikan unsur intrinsik pada geguritan.
Nah berikut ini adalah unsur intrinsik yang harus kita ketahui dan pahami sebelum membuat teks geguritan atau bisa juga disebut dengan puisi bahasa jawa yang baik dan benar, di antarnya adalah:
- Tema, Sebelum kita membuat geguritan, ada baiknya kita menentukan tema dari geguritan yang akan kita buat. Hal ini bertujuan supaya isi dari geguritan kita lebih spesifik dalam membahas suatu hal.
- Bahasa yang indah, Seperti yang sudah saya singgung di atas, dalam membuat teks geguritan kita harus menggunakan bahasa yang sopan dan indah.
- Judul geguritan, hal ini berguna untuk memberikan sedikit penjelasan kepada para pendengar atau pembaca geguritan sebelum mereka mendengarkan atau membaca geguritan yang kita buat.
- Diksi, dalam pembuatan geguritan kita harus memilih diksi atau kata yang baik, sopan dan indah.
- Citra
- Purwakanthi, adalah alunan bunyi atau rima yang sama pada beberapa kata.
- Amanat, selain harus memiliki makna dan arti, geguritan juga harus memiliki amanat yang terkandung pada geguritan tersebut.
Jenis-Jenis Geguritan
Teks geguritan mempunyai 3 (tiga) jenis. Nah untuk membedakan antara ketiga jenis tersebut, kali ini pintarnesia akan memaparkan perbedaan antara ketiga jenis tersebut, di antaranya adalah:
- Jenis teks geguritan yang pertama adalah teks geguritan yang menceritakan tentang kondisi atau pengalaman si pembuat geguritan maupun orang lain (naratif).
- Jenis teks geguritan yang kedua adalah teks geguritan yang menceritakan atau menandakan gambaran suatu peristiwa (deskriptif).
- Jenis teks geguritan yang ketiga adalah teks geguritan yang di dalamnya mengandung kritikan atau sindiran ke lain.

Teks Sandiwara
Setelah kalian memperlajari teks sandiwara di buku Asah Basa Jawa Halaman 39 – 45. Jadwal minggu ini kalian buat teks sandiwara.
- Buatlah Teks sandiwara dengan Tema “Sinau nganggo aplikasi daring”
- Buatlah kelompok maksimal 5 anak, terdiri dari laki-laki dan perempuan.
- Komunikasikan dengan teman sekelompok bisa melalui WA dalam membuat teks sandiwara tersebut.
- Tugas sandiwara dikumpulkan maksimal tanggal 19 Oktober 2020.
- Bentuk file yang diupload bisa berupa ketikan Microsoft Word atau gambar.
- Setiap kelompok hanya meng upload 1 karya sandiwara saja.
- Tugas kalian upload pada link berikut : https://forms.gle/rd1YwsKWpD3r8BVs9
- Ingat tetap patuhi protokol kesehatan ya…
