Arsip Penulis: PEkik Pramaditia

Cangkriman

Cangkriman yaiku Unen Unen kang isine kudu di bathang utawa di bedhek lan dijawab.

Cangriman dewe dibedhakake ono 4 jenis yaiku :

  1. Cangkriman Wancahan yaiku Cangkriman kang di jupuk saka Suku kata ngarep lan Buri,  Cangkriman Wancahan luwih kayata Singkatan Kang duweni arti.

Tuladha :

  • Burnas Kopen = Bubur Panas Kokopen ( dimakan dgn cara mulut nempel ke mangkok
  • Pak Boletus      = Tapak Kebo lelene satus ( Jejak telapak kerbau berisi lele seatus)
  • Manuk Biru     = Pamane punuk Bibi e kuru ( Pamanya gemuk bibinya kurus )
  • Buta Buri         = Tebu ditata mlebu lori ( Tebu ditata masuk lori )
  • Pindang Khutut= Sapi Mblandang lukune katut ( Sapi kabur walukunya ikut )

2. Cangkriman Pepindhan yaiku Cangkriman kang ngemu teges Pepindahan utawa irib iriban.

Tuladha :

  • Pitik walik saba kebun , Jawaban = Nanas
  • Pitik walik saba meja, Jawaban = Sulak ( kemoceng )
  • Abang-abang dudu kidang, pesegi dudu pipisan (merah bukan kijang, pesegi bukan alat penggiling   jamu),  Jawaban: = batu bata
  • Duwe rambut ora duwe endhas (Punya rambut tidak punya kepala) Jawab = Jagung 
  • mboke diidak idak anake dielus-elus (Ibunya diinjak-injak anaknya dibelai-belai) jawab = tangga bambu

3. Cangkriman Belenderan yaiku Cangkriman kang ngemu teges plesetan

Tuladha :

  • Wetenge keroncongan = Wetenge wis luwe ( Perutnya sudah lapar )
  • Disuguihi Opak angin = Ora disuguhi apa-apa ( Tidak dijamu apa apa )
  • Gajah numpak becak ketok apane? (Gajah naik becak kelihatan apanya?) Jawab Ketok gorohe (kelihatan membualnya)
  • Wong dodol tempe ditaleni (Orang jual tempe diikat). Jawab: Yang diikat bukan orangnya tetapi    tempenya
  • Wong dodol klapa dikepruki (Orang jual kelapa dipukuli kepalanya). Jawab: Yang dikepruk bukan    orangnya tetapi kelapanya

4. Cangkriman Tembang yaiku  Cangkriman kang isine dijupuk saka tembang macapat biasane iku tembang pocung.

Tuladha :

  • Tembang Kinanthi: Wonten putri luwih ayu; Tan ana ingkang tumandhing; Sariranira sang retna; Owah-    owah saben ari; Yen rina kucem kang cahya; mung ratri mancur nelahi (Ada putri amat cantik; tidak ada     yang menandingi; badan sang dewi; Berubah setiap hari; Kalau siang suram cahayanya; Hanya pada     malam hari bersinar cahayanya). Jawaban: Rembulan
  • Tembang Pucung: Bapak pucung dudu watu dudu gunung; Sangkamu ing sabrang; Ngon ingone sang    Bupati; Yen lumampah si pucung lembehan grana (Bapak pucung bukan batu bukan gunung; Asalmu dari     tanah seberang; Piaraan sang Bupati; Kalau berjalan si pucung berlenggang hidung). Jawab: gajah
  • Tembang Pucung: Bapak pucung renten-renteng kaya kalung; Dawa kaya ula; Pencokanmu wesi miring;    Sing disaba si pucung mung turut kutha (Bapak pucung berangkai seperti kalung; Panjang laksana ular;     Tempat bertenggermu besi miring; Yang didatangi si pucung dari kota ke kota). Jawab: kereta api

Salinana cangkriman iki marang buku LKSmu halaman 6.

  1. Duwe rambut ora duwe endhas tegese Jagung.
  2. Gajah nguntal sangkrah tegese Pawon.
  3. Emboke wuda, anake tapihan tegese Pring.
  4. Anake diidhak-idhak, emboke dielus-elus tegese Andha.
  5. Pitik walik saba meja tegese Sulak.
  6. Dicokot bongkote sing kalong pucuke tegese Rokok.
  7. Ora mudhun-mudhun nek ora nggawa mrica saknthong tegese Kates.
  8. Bocah cilik nggendong omah tegese Bekicot.
  9. Bubur panas kopen tegese Burnaskopen.
  10. Tibane mengingsor digoleki mendhuwur tegese Gendheng bocor.

Basa Ngoko Alus

  1. Digunaake kanca karo kanca ngandhakake wong sing diurmati.
  2. Bojo marang kakunge.
  3. Wong tua marang wong enom sing diurmati.
  4. Guru marang bekas muride sing wis kulawarga.
  5. Kata-kata yang digunakan adalah tembung ngko yang dicampur tembung krama.
  6. Awalan dan akhiran tidak diubah menjadi awalan dan akhiran krama
  7. Kata-kata yang diubah menjadi krama adalah kata ganti orang kedua, kata ganti orang ketiga, barang yang dimiliki dan perbuatan orang yang diajak bicara.

Tuladha 1 :

Ibu         : “Lho Pak, arep tindhak ngendhi?”

Bapak   : “Menyang kelurahan, ditimbali Pak Lurah.”

Ibu         : “Lha ngko kondhure jam pira?”

Bapak   : “Kira-kira jam 5 nan.”

Tuladha 2 :

Ibnu      : “Zen, pan ngendi?”

Zeni       : ”Kiye, enyong didhawuhi Pak Guru njukut kapur.”

Ibnu      : “Yuh maring koperasi disit tuku jajan.”

Zeni       : “Emoh lah, ngko didukani Pak Guru, njukut kapur bae suwe nemen.”

SILAHKAN KALIAN KERJAKAN SOAL BERIKUT MANUT UNGGAH UNGGUH BASA NGOKO ALUS !

Jika ada tulisan berwarna merah, berarti wajib diisi.

PANYANDRA

Panyandra yaiku unen-unen utawa tembung kang saemper karo pepindhan kang surasane mawa tetandhing sarta ngemu teges memper utawa mirip (Panyandra adalah kata-kata atau kalimat mirip dengan pengandaian yang diibaratkan dengan menggunakan perbandingan dan mengandung arti seperti atau mirip.)

Contoh sederhananya, panyandra awak “drijine mucuk eri”. Kata tersebut menggambarkan jari-jari manusia yang indah dan lentik.

Berikut beberapa ciri-ciri panyandra :

  1. Dalam istilah sastra Jawa tradisional panyandra berarti ibarat, untuk menyatakan gambaran bagian tubuh, keadaan alam, keadaan hewan.
  2. Menggambarkan sesuatu yang khusus, misalnya bagian tubuh : rambut, hidung, pipi dan mata.
  3. Membandingkan sesuatu dengan sesuatu. Artinya ada dua objek sebagai pembanding dan yang dibandingkan.
  4. Menggambarkan dengam melebih-lebihkan maknanya.

Silahkan salin panyandra berikut kedalam Buku LKS Hal. 4 – 5

  1. Idepe tumenga ing tawang tegese idep kang pucuke ndengking, mayuk mandhuwur
  2. Lambene manggis karengat tegese lambene kaya kulite manggis (bibirnya berwarna kemerah-merahan).
  3. Untune miji timun tegese untune cilik-cilik rentep, rapi memper wiji timun.
  4. Pipine nduren sajuring tegese pipine kaya duren tegese pipine montok, halus, putih kekuningan.
  5. Rambute ngembang bakung tegese Rambut yang berombak-ombak seperti bunga bakung.
  6. Swarane ngombak banyu tegese swarane alus kaya ombake banyu.
  7. Irunge mencana pinatar, mbangir, ngudhup mlathi
  8. Mripate ndamar kanginan (blalak – blalak)
  9. Bathuke nyela cendani tegese bathuke alus sumorot/memancar
  10. Lambehane mblarak sempal tegese lambehan tangane sempale blarak seng tiba.

Merak kasimpir : lambehane lembut banget

Ruruh jatmika : polatane /tingkah lakune sopan santun.

Sedhet singset : hubungane karo slirane / perawakane

Praene : sorot matane

Nggendhewa pinenthang : Tangane kaya gendhewa pinentang tegese tangan sing sikute nekuk mlebu.

Geguritan

Pengertian Geguritan adalah salah satu karya sastra jawa yang memiliki kata atau kalimat yang indah dan memiliki banyak makna dalam bahasa jawa. Cara penyampaian geguritan menggunakan bahasa yang memiliki rima, irama, bait, mitra dan penyusunan kata yang baik dan tepat.

Sering kali orang membuat geguritan sesuai dengan ungkapan perasaan dan pikiran si pembuat geguritan tersebut.

Dalam bahasa Indonesia geguritan bisa disebut juga dengan puisi, yang membedakan geguritan dengan puisi biasa dalam penggunaan bahasanya saja. Geguritan menggunakan bahasa jawa sedankan puisi menggunakan bahasa Indonesia.

Ciri-Ciri Geguritan

Seperti karya sastra yang lain, geguritan juga memiliki karakteristik atau ciri khas tersendiri. Ciri atau karakteristik ini juga bisa mempermudah kita dalam membuat geguritan. Nah, berikut ini adalah hal yang membedakan anatara geguritan dengan karya sastra yang lain, di antaranya adalah:

  1. Memiliki aturan seperti tembang macapat, yakni guru wilangan (jumlah suku kata setiap baris), guru gatra (jumlah bait), guru lagu (huruf vokal terakhir).
  2. Kata atau kalimat yang digunakan dalam geguritan harus mempunyai makna atau arti.
  3. Geguritan yang dibuat harus menggunakan bahasa yang sopan dan indah.
  4. Terdapat nama pengarang geguritan pada depan atau atas teks geguritan yang dibuat.

Unsur Intrinsik Geguritan

Guna mempermudah kita dalam membuat geguritan yang baik dan benar, kita perlu memerhatikan unsur intrinsik pada geguritan.

Nah berikut ini adalah unsur intrinsik yang harus kita ketahui dan pahami sebelum membuat teks geguritan atau bisa juga disebut dengan puisi bahasa jawa yang baik dan benar, di antarnya adalah:

  1. Tema, Sebelum kita membuat geguritan, ada baiknya kita menentukan tema dari geguritan yang akan kita buat. Hal ini bertujuan supaya isi dari geguritan kita lebih spesifik dalam membahas suatu hal.
  2. Bahasa yang indah, Seperti yang sudah saya singgung di atas, dalam membuat teks geguritan kita harus menggunakan bahasa yang sopan dan indah.
  3. Judul geguritan, hal ini berguna untuk memberikan sedikit penjelasan kepada para pendengar atau pembaca geguritan sebelum mereka mendengarkan atau membaca geguritan yang kita buat.
  4. Diksi, dalam pembuatan geguritan kita harus memilih diksi atau kata yang baik, sopan dan indah.
  5. Citra
  6. Purwakanthi, adalah alunan bunyi atau rima yang sama pada beberapa kata.
  7. Amanat, selain harus memiliki makna dan arti, geguritan juga harus memiliki amanat yang terkandung pada geguritan tersebut.

Jenis-Jenis Geguritan

Teks geguritan mempunyai 3 (tiga) jenis. Nah untuk membedakan antara ketiga jenis tersebut, kali ini pintarnesia akan memaparkan perbedaan antara ketiga jenis tersebut, di antaranya adalah:

  1. Jenis teks geguritan yang pertama adalah teks geguritan yang menceritakan tentang kondisi atau pengalaman si pembuat geguritan maupun orang lain (naratif).
  2. Jenis teks geguritan yang kedua adalah teks geguritan yang menceritakan atau menandakan gambaran suatu peristiwa (deskriptif).
  3. Jenis teks geguritan yang ketiga adalah teks geguritan yang di dalamnya mengandung kritikan atau sindiran ke lain.